Sammas Sitorus Berharap Keadilan di PN balige


Dengan menggunakan safari warna hijau tua, Sammas Sitorus, Ketua Persatuan Masyarakat Adat Lumban Sitorus, didampingi tim penasehat hukumnya, Senin, 16 November 2015, menghadiri sidang ke lima di Pengadilan Negeri (PN) Balige.   Sidang kali ini untuk mendengarkan keterangan empat orang saksi korban.


Jaksa Penuntut Umum (JPU), Aprianto Naibaho, SH, menghadirkan Mangoloi Pardede (44), Hotner Tampubolon (47), Frengki Tongam Hutagaol (33) dan Viktor Tampubolon (34). Keempatnya adalah karyawan di PT Toba Pulp Lestari (TPL). Sebelum dimintai kesaksiannya, Hakim mengambil sumpah keempat saksi  tersebut.


Dalam persidangan Mangoloi Pardede memberikan keterangan bahwa dia dicegat oleh Sammas Sitorus, di parkiran truk logging, areal PT TPL, Desa Sosor Ladang, Kecamatan Parmaksian, sepulang menjumpai sopir-sopir truk yang sedang parkir. Sammas Sitorus, langsung mengancam akan membunuhnya dengan mengatakan berkali-kali,”Ingkon hu pamate do ho, bujang ni inam!” (Akan ku bunuh kau dengan mengucapkan kata-kata kotor).


Dia menambahkan bahwa Sammas sitorus yang berada di sebelah kanannya langsung memukuli dirinya yang saat itu berada di atas motor dibonceng oleh Hotner Tampunolon, menusuk sudut bibir kanannya dengan pulpen, akibatnya sudut bibirnya mengalami luka lecet. Pipi kirinya juga mengalami lebam akibat pukulan Sammas Sitorus. Dia mengatakan sangat ketakutan dan panik, sehingga hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya untuk menghindari pukulan-pukulan Sammas. Masih menurutnya, untung saja ada seorang Bapak melerainya. Sehingga aksi pemukulan tersebut berhenti. Dan mereka langsung lari ke pos timbangan, mengadukan ke securiti. Dari Timbangan dia bersama Horner Tampubolon menuju Rumah Sakit Porsea di Parparean, berobat dan melakukan visum.  Seteleh itu mereka ke Polres Toba Samosir  melakukan pengaduan.


Dalam kesaksiannya Mangoloi Pardede juga mengatakan bahwa akibat kejadian itu dia trauma dan terhalang bekerja selama empat hari. Namun menurut tim penasehat hukum Sammas Sitorus, Nurleli Sihotang, SH, keterangan ini berbeda dengan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP), yang mengatakan bahwa Mangoloi Pardede sama sekali tidak terhalang bekerja.


Keterangan Mangoloi Pardede juga berubah-ubah, khususnya terkait dengan pelaksanaan visum, awalnya dia mengatakan pergi sendiri ke RS, kemudian dia juga mengatakan bersama dengan polisi. Keterangan lain yang berbeda adalah soal luka dan memar di wajah, di awal dua orang saksi, Franky Hutagaol dan Viktor Tampubolon, mengatakan tidak ada bekas luka dan memar di wajah korban ketika bertemu di Polres Humbang Hasundutan sekitar pukul 11.00 Wib. Namun karena JPU berkali-kali meminta mereka mengingat kembali akhirnya Viktor Tampubolon mengatakan sepertinya memang ada tergores di sudut bibir sebelah kiri. Padahal menurut Mangoloi Pardede dan Hotner Hutagaol, luka lecet berada di sudut bibir sebelah kanan.


Keterangan lain yang berbeda adalah sebelumnya Mangoloi Pardede mengatakan bahwa ada seorang bapak yang melerai mereka, namun dalam keterangan Hotner Tampubolon, tidak ada yang melerai. Selain itu Mangoloi dalam kesaksiannya mengatakan terdakwa mencegat dan langsung mengancam membunuh mereka. Tidak ada percakapan apapun sebelumnya. Namun Hotner Tampubolon dalam kesaksiannya mengatakan sebelum terdakwa minta tolong untuk memindahkan truk-truk pengangkut kayu yang sedang parkir di sana karena mereka mau aksi.


Suara riuh peserta sidang yang dihadiri sekitar 80-n warga Desa Lumban Sitorus tersebut sesekali terdengar ketika kesaksian yang diberikan masing-masing saksi berbeda-beda. Namun suasana kembali tenang karena antusias mereka mengikti jalannya persidangan tersebut.


Sammas Sitorus, membantah semua keterangan saksi korban, ketika hakim ketua, Derman P. Nababan,SH,MH, menanyakan tangapannya. Menurut terdakwa, dia tidak pernah melakukan pengancaman dan pemukulan terhadap korban. Dia mendatangi Mangoloi Pardede dan Horner Tampubolon meminta tolong agar truk-truk pengangkut kayu tersebut dipindahkan dari lokasi tersebut karena menghalangi aksi mereka.


Seusai persidangan, Sammas Sitorus mengatakan bahwa duduk di kursi pesakitan, sebagai terdakwa penganiayaan, tidak pernah dipikirkan. Namun laki-laki berusia 34 tahun tersebut mengatakan tetap tegar dan tenang mengikuti persidangan karena sangat yakin bahwa dia tidak melakukan tindakan penganiayaan yang dituduhkan kepadanya. Dia juga berharap agar hakim bisa memberikan rasa keadilan kepadanya. Karena menurutnya tuduhan ini tidak terlepas dari perjuangan mereka menuntut tanah adat dari PT TPL selama ini, di mana dia menjadi ketua dalam gerakan ini.***(Delima Silalahi)

-->