Debat Kandidat Bupati Humbang Hasundutan

“Mencari Pemimpin yang Berpihak kepada Masyarakat Adat”

 

 

 

Senin, 9 November 2015, Masyarakat adat Pandumaan Sipituhuta, menyelenggarakan Debat Kandidat Bupati Humbang Hasundutan, di halaman bekas SD Negeri Pandumaan.


Acara diawali dengan kata sambutan dan penjelasan singkat kegiatan oleh Ketua Masyarakat Adat, James Sinambela. Adapun tujuan acara ini adalah membantu masyarakat mendengar dan mengenal lebih dalam para calon bupati/wakil bupati khususnya menyangkut komitmen mereka terhadap penyelesaian kasus-kasus masyarakat adat di Humbang Hasundutan secara umum dan Pandumaan-Sipituhut secara khusus. Sehingga masyarakat tidak salah memilih pemimpin pada pilkada Desember 2015 nanti.


Acara yang dihadiri empat pasangan calon tersebut, dilanjutkan dengan pemaparan pengurus tentang perjalanan kasus yang dihadapi sejak Juni 2009, upaya-upya yang sudah dilakukan dan harapan mereka ke depan. Pemaparan ini disampaikan oleh Op. Febri lumbangaol dan Pdt. Haposan Sinambela.  Dalam paparannya Pdt. Haposan Sinambela dan Op. Febri Lumbangaol, menjelaskan dampak-dampak ekonomi, sosil dan budaya yang mereka alami selama ini. Selain kerugian ekonomi, hal lain yang dialami oleh masayarakat adat adalah kriminalisasi oleh pihak aparat keamanan. Di mana ada sekitar 16 orang masyaraat yang pernah ditahan di Polres Humbang Hasundutan dan Polda Sumatera Utara. Mereka juga menjelaskan tentang jalan berliku yang ditempuh baik di tingkat daerah maupun pusat tengan kasus yang mereka hadapi.


Usai mendengar paparan dari pengurus, keempat pasangan calon yang hadir memberikan tanggapan, antara lain:

Pertama, Marganti Manullang, Calon bupati dari Nomor Urut 1, mengatakan bahwa jika dia terpilih menjadi bupati akan menjadi yang terdepan membantu masyarakat menyelesaian persoalan ini, karena itu merupakan kewenangan mereka. Namun perlu ada lembaga adat di Pandumaan Sipituhuta, sebagai mana diatur dalam aturan dan peraturan.

Kedua, Dosmar Banjarnahor, Calon Bupati Nomor 2, menatakan bahwa penyelesaian kasus Masyarakat Adat harus serius bukan lagi retorika.

Ketiga, Rimso Sinaga, Calon Bupati Nomor.3, mengatakan bahwa Penyelesaian kasus tanah adat Pandumaan-Sipituhuta, menjadi prioritas utama.

Keempat, Harry Marbun, belum mendapatkan nomor urut dari KPUD, mengatakan  pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mensejahterakan rakyatny. Dia juga mentakan bawa masalah tanah adat adalah prioritas mereka dalam memimpin lima tahun ke depan, khususnya kasus tanah adat Pandumaan-Sipituhuta.

Dalam tanya jawab yang dipandu oleh moderator, Delima Silalahi, staf studi dan advokasi KSPPM, tiga orang penanya dari masyarakat  meminta ketegasan masing-masing pasangan calon dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Masyarakat juga meminta agar semua pasangan calon bersedia menandatangani perjanjian kontrak politik yang sudah mereka susun. Semua pasangan calon bersedia menandatangani kontran politik tersebut dengan beberapa catatan perbaikan.

Ada tiga poin penting dalam perjanjian kontrak politik tersebut, antara lain:

  1. Bersama-sama dengan masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta mempercepat penyelesaian konflik tanah adat masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta yang terjadi sejak Juni 2009.
  2. Mengakui dan melindungi keberadaan masyarakat adat di Kabupaten Humbang Hasundutan khususnya di Pandumaan-Sipituhuta dengan mengeluarkan peraturan daerah (Perda) atau SK (Surat Keputusan) tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat dan Hak-Hak tradiisionalnya.
  3. Mendukung upaya-upaya pengembangan produksi kemenyan di kabupaten Humbang Hasundutan melalui program dan alokasi anggaran, sehingga Kabupaten Humbang Hasundutan menjadi kabupaten penghasil kemenyan terbaik di Indonesia dari segi kuantitas dan kualitas

Acara yang berlangsung hampir lima jam tersebut, kemudian ditutup dengan makan siang bersama yang disediakan oleh Masyarakat Adat Pandumaan-Sipituhuta. Besar harapan masyarakat terhadap keempat pasangan calon yang hadir, akan serius menangani persoalan ini. Sebagaimana diungkapkan oleh Amar Risma Lumbanbatu dan Ama Hendra Lumbangaol. Nmun tidak sedikit juga yang peesimis, para pasangan calon bersedia menpati janjinya, setidaknya hal ini diungkapkan oleh beberapa ibu, saat acara selesai. (DS)***

 

 

-->