Habis Takut Muncul Berani

Oleh Delima Silalahi

 

Catatan diskusi dengan masyarakat adat Dusun Nagahulambu, Simalungun, korban perampasan tanah oleh PT Toba Pulp Lestari, Kamis, 15 Nopember 2012

Aroma tuak, minuman khas Tapanuli, terasa menusuk hidung ketika saya dan tiga orang teman tiba di rumah Op. Erwin Sinaga di Dusun Nagahulambu, Kamis siang yang lalu. Di teras rumah ayah tujuh anak ini, terlihat dua drum plastik biru yang sudah terisi seperempat tuak (nira). Drum plastik ini merupakan penampungan sementara tuak yang dihasilkan para penyadap tuak (paragat) yang ada di dusun tersebut, sebelum diambil oleh pembelinya.

 

Tuak memang menjadi salah satu produk unggulan dari dusun ini, di samping banyak lagi produk hasil hutan lain yang menjadi penopang hidup masyarakat, seperti petai, jengkol dan durian. Memasuki perkampungan ini dari Desa Pondok Bulu, di setiap sudut kita akan melihat pohon enau atau aren dari yang masih kecil sampai besar. Pohon aren dalam Bahasa Batak Toba di sebut dengan Bagot. Sekilas tidak ada yang menarik dari pohon tersebut, khususnya bagi saya yang bukan penggemar minuman beralkohol tersebut. Namun bagi komunitas Batak, tuak merupakan minuman khas yang memiliki peranan penting dalam adat-istiadat. Maka jangan heran, jika dalam pesta-pesta adat, tuak merupakan suguhan yang istimewa bagi para tamu yang berkunjung. Di perkotaan minuman ini sering ditukar dengan jenis minuman beralkohol keluaran pabrik, seperti bir dan wine.

 

Selain memiliki peranan penting dalam sosial budaya masyarakat Batak, tuak juga menjadi minuman sehari-hari masyarakat Batak di desa-desa. Bagi sebagian besar laki-laki Batak, melepaskan senja terasa kurang afdol jika belum meminum satu dua gelas tuak. Selain laki-laki dewasa yang meminum tuak, tuak manis juga banyak dikonsumsi oleh kaum ibu yang baru melahirkan, karena dipercaya dapat mengembalikan kebugaran tubuh pada masa nifas dan memperlancar Air susu ibu.

 

Pohon aren atau bagot,  sejak ratusan tahun lalu sudah merupakan sumber mata pencaharian masyarakat di Dusun Nagahulambu dan sekitarnya. Maka jangan heran, jika melewati Desa Pondok Buluh, Simalungun, akan banyak terlihat lapau tuak. Tempat  di mana para pecinta tuak akan melepaskan dahaganya dengan satu dua gelas tuak, sebelum pulang ke rumah atau sampai ke tempat tujuan. Sebagai teman tuak tersebut, biasanya disediakan berbagai jenis lauk seperti ikan mujahir goreng, sate kerang dan kerang rebus sebagai teman minum tuak yang biasa disebut tambul.Setiap sore sampai malam tempat ini sangat ramai dikunjungi orang.

 

Tersedianya tuak bagi para penikmatnya, tentu tidak terlepas dari jerih payah para penyadap aren (paragat) yang ada di dusun Nagahulambu tersebut. Jika paragat tidak bekerja sehari saja, mungkin akan banyak penikmat tuak yang kecewa. Itulah sebabnya, para paragat yang ada di Dusun Nagahulambu tetap setiap menjalankan profesinya, karena di samping menambah penghasilan keluarga, juga memenuhi kebutuhan parapenikmat tuak.

 

Dalam diskusi siang itu, warga Dusun Nagahulambu menuturkan bahwa dulu, setiap harinya mereka bisa menghasilkan 4-5 kaleng tuak, yang dijual ke Pondok Buluh, dengan harga normal sekitar Rp.35.000/kaleng. Hasil penjualan tuak inilah yang mereka jadikan mata pencaharian utama di samping penjualan hasil-hasil pertanian lainnya. Penghasilan dari enau ini akan bertambah pada hari menjelang Idul Fitri atau bulan puasa, karena buah enau yang biasa mereka sebut dengan halto, bisa dijual dengan harga Rp.60.000/tandan. Buah enau ini merupakan bahan baku kolang-kaling yang banyak dikonsumsi menjelang bulan puasa. Manisnya penghasilan dari tuak ini, sangat disyukuri oleh mereka, itulah sebabnya perkembangan pohon aren ini sangat mereka perhatian dan pohonnya dirawat dengan baik.

 

Namun saat ini, petaka mengancam kenyamanan hidup mereka. Kehadiran PT  Toba Pulp Lestari (dulu Indorayon) di desa mereka seakan meluluh- lantakkan semua sendi-sendi kehidupan mereka. Sejak tahun 2005,  pohon aren mulai dibabat oleh perusahaan penghasil bubur kertas ini. Alat-alat berat mereka pun meratakan pohon-pohon aren dan pohon buah lainnya dengan tanah. Berganti dengan pohon eukaliptus. Penghasilan pun drastis menurun. Setiap harinya mereka hanya bisa menghasilan 1-2 kaleng tuak saat ini. Kenyamanan dan kemandirian ekonomi yang mereka miliki sebelum kehadiran perusahaan tersebut terguncang sudah. Tidak hanya menghancurkan tanaman-tanaman tua tersebut, mereka pun bahkan dilarang mengusahai tanah yang telah memberikan kehidupan kepada mereka sejak ratusan tahun lalu.

 

Dalam kebingungan dan ketakutan mereka pun merasa tidak berdaya menghadapi perusahaan tersebut. Puncaknya pada Agustus 2012 yang lalu, kesabaran mereka pun mulai berbatas, ketika perladangan mereka di klaim oleh perusahaan tersebut sebagai areal kerjanya. Pihak TPL dikawal empat orang aparat bersenjata laras panjang, melarang masyarakat untuk bekerja di ladang dengan alasan tanah itu merupakan tanah TPL. Intimidasi pun kerap dilakukan kepada warga dengan mengatakan bahwa barang siapa warga yang masih mengerjai ladangnya akan ditangkap. Ancaman dan intimidasi itu mengakibatkan banyak warga yang ketakutan dan tidak melakukan perlawanan.

 

Di tengah ketakutan warga tersebut, untung saja masih ada warga yang berani melawan dan tetap bertahan. Mereka mengatakan bahwa sebagai keturunan Tuan Nagahulambu Sinaga, mereka adalah pewaris dan pemilik tanah adat tersebut.  Dari sejarah yang diwariskan leluhur mereka, bahwa yang pertama sekali membuka perkampungan di sana adalah Tuan Nagahulambu Sinaga, nenek moyang mereka. Tuan Nagahulambu Sinaga datang dari Batu Nanggar Aek Nauli untuk membuka perkampungan di Sitahoan. Mereka pun berkembang di sana sampai saat ini sudah delapan generasi. Ketika Belanya menjajah Indonesia, nenek moyang mereka pun turut berjuang melawan penjajah, bahkan dari cerita yang mereka sampaikan, nenek moyang mereka pernah melakukan perlawanan hebat untuk mengusir penjajah dari Sitahoan tersebut sekitar tahun 1930-1940.  Keberadaan komunitas mereka pun akhirnya diakui oleh pemerintah Belanda ketika itu. Sehingga Belanda akhirnya membuat status enclave terhadap lokasi Sitahoan-Nongnongan Asu sekitar 490 ha.

 

Pernyataan mereka diperkuat dengan hasil pengumpulan data mengenai status enclave Nongnongan Asu Sitahoan, yang dilakukan oleh team yang dibentuk oleh Departemen Kehutanan Kantor Wilayah Propinsi Sumatera Utara pada Oktober 1991 yang lalu. Di mana pada saat pengumpulan data tersebut team juga dibantu oleh pihak Indorayon yang diwakili oleh Ir. H. Si mamora. Salah satu kesimpulan team adalah bahwa lokasi Nongnongan Sitahoan adalah merupakan enclave (tanah masyarakat di dalam kawasan hutan).

 

Pengetahuan warga dan kesimpulan dari team ini, ternyata tidak berdampak apa-apa terhadap  pengakuan pemerintah saat ini dan perusaan atas hak kepemilikan warga terhadap tanahnya. Keberatan warga Sitahoan ini, tidak ditanggapi oleh dinas kehutanan Kabupaten Simalungun dan pihak TPL. Mereka tetap memaksakan diri untuk merampas tanah warga dan menghancurkan tanaman-tanamannya.

 

Perusahaan penghasil bubur kertas ini  sama sekali tidak bergeming dengan keberatan warga. Setelah menghancurkan tanaman endemik “kemenyan” di Pollung  Humbang Hasundutan, mereka juga sama sekali tidak perduli dengan tanaman tuak, yang secara sosio kultural sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Batak. Perusahaan peraih gold dan silver 2012 dari pemerintah republik  ini, tidak hanya merampas hidup masyarakat Batak di kawasan Tapanuli, tetapi juga memusnahkan tanaman-tanaman yang sangat berhubungan erat dengan sejarah dan perkembangan peradaban Masyarakat Batak.

 

Masyarakat Nagahulambu yang berada di lokasi Sitahoan, dalam diskusi siang itu, dengan tegas mengatakan bahwa mereka tidak akan memberikan sejengkalpun tanah warisan nenek moyang mereka kepada pihak perusahaan yang sudah menghancurkan sumber mata pencaharian  mereka selama ini. Ketakutan dan ketidakberdayaan yang diakibatkan intimidasi yang dilakukan perusahaan selama ini, berganti dengan munculnya semangat perjuangan untuk mempertahankan milik mereka tersebut untuk anak cucu mereka kelak. ***

-->