Kronologi penangkapan warga Pandumaan dan Sipituhuta


Berdasarkan penuturan/penjelasan korban.

Warga  Pandumaan dan Sipituhuta yang terdiri dari kaum Ibu, Bapak, tua dan muda berkumpul di simpang Desa Sipituhuta tepatnya di Marade, menunggu sanak keluarga mereka yang belum pulang dari hutan (kebun kemenyan). Dengan santun warga menyapa  pengguna jalan yang melintas untuk menanyakan apakah saudara mereka ada di dalam mobil.

Hal ini dilakukan warga setelah adanya berita bahwa sebanyak 16 orang warga ditangkap polisi dari kebun kemenyan dan sudah berada di Mapolres Humbahas. Sementara masih banyak warga yang belum sampai di kampung sampai pukul 18.00 Wib. Warga khawatir petani yang belum pulang juga ikut ditangkap sehingga mereka sepakat untuk menunggu di simpang Marade.

Pada saat warga sedang berkumpul ada berita bahwa pihak polres akan turun ke simpang Marade sehingga warga menunggu kehadiran pihak polres dengan tujuan akan memohon agar saudara mereka yang ditangkap segera dilepaskan.

Polisi tiba di Marade yang datang dari dua arah yaitu arah Doloksanggul dan arah kantor camat Pollung terjadi dialog antara polisi dan warga. Polisi mendesak agar warga membubarkan diri, tetapi warga menjawab warga akan bubar dengan tertib apabila pihak polres Humbang Hasundutan melepaskan  saudara mereka. Polisi mengatakan akan melepaskan warga jika terbukti tidak bersalah. Polisi semakin ganas membubarkan warga secara paksa dengan membuat peringatan bahwa jika sampai pada hitungan ketiga warga tidak meninggalkan tempat maka polisi akan maju terus, sembari mempersiapkan peralatan.

Proses Penangkapan Warga

  1. Pdt. Haposan Sinambela

SEKITAR pukul  01.02 Wib, Selasa dinihari, 26 Pebruari 2012, Polisi menangkap Pendeta H. Sinambela dengan menarik paksa leher bajunya pada saat memimpin proses dialog pihak warga dengan pihak kepolisian. Kemudian memasukkan beliau ke mobil. Terjadi tarik menarik antara polisi dengan beberapa warga. Mangasa Lumbangaol berusaha menarik pendeta tetapi polisi tetap menarik sampai ke mobil. Melihat hal ini warga mulai panik sedangkan polisi semakin merapat mendesak ke arah warga. Polisi juga menyuruh semua warga jongkok dan mengatakan akan menangkap semua laki-laki.

Akhirnya semua yang tinggal di tempat langsung ditangkap polisi dan memasukkannya ke mobil tahanan. Semetara warga yang lain berusaha melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran polisi.

2. Op. Pebri Lumbangaol (Mangasa Lumban Gaol, 64 tahun)

Ditangkap secara paksa oleh tiga orang polisi dari Simpang Marade saat berdiri di tengah-tengah massa, dan langsung memasukkan ke mobil tahanan menyusul Pdt. H. Sinambela yang duluan ditangkap.

3. Op. Putra Sinambela (Sahat Sinambela 69 tahun)

Ditangkap secara paksa oleh tiga orang polisi dari Simpang Marade ketika berdiri di tengah-tengah massa. Sempat melakukan perlawanan dari korban namun polisi terus menarik dan membuat Bapak berusia lanjut ini jatuh ke aspal dan badannya terasa sakit. Polisi pun dengan paksa memasukkannya  ke mobil tahanan.

4. Am. Pangihutan (Sihol Lumbanbatu 44 tahun)

Ditangkap secara paksa dari Simpang Marade saat berdiri di tengah kerumunan massa, Sempat ada perlawanan karena dua orang polisi dari arah depan dan dua orang dari arah belakang mendorong dan menarik-narik beliau. Polisi dengan kasar memasukkannya ke mobil tahanan dan langsung bergabung dengan warga lainnya di dalam mobil tahanan yang sudah duluan ditangkap.

5. Am. Risda Lumbanbatu (Mananti Lumbanbatu 61 tahun)

Ama Risda, sebenarnya baru datang ke Marade, dan langsung ditangkap paksa polisi, korban  berusaha melepaskan diri dari polisi sehingga korban jatuh. Melihat hal itu, istri korban  berusaha menarik-narik, namun kalah oleh tarikan polisi dan langsung memasukkan ke mobil  tahanan. Polisi juga memeriksa dan bertanya apa yang ada di kantong korban karena korban sedang mengantongi uang.

6. Op. Suhut Lumbangaol (Mangaram Lumbangaol  68 tahun)

Ditangkap secara paksa sehingga mengalami luka ringan di pelipis sebelah kanan. Lutut sebelah kiri juga memar, korban berusaha melepaskan diri tetapi polisi langsung memasukkan kemobil tahanan.

7. Am. Dody Siregar (Tomu Siregar  44 tahun)

Ama Dody Siregar, ditangkap saat berbicara dengan Trisna Harahap, staf KSPPM. Tiga orang polisi langsung menangkap paksa korban walau tanpa perlawanan, dan memasukkan ke mobil tahanan.

8. Am. Oskar Lumbangaol (Desman Lumbangaol  32 tahun)

Korban bersama 15 temannya sesaat setelah makan siang di kebun kemenyan pada siang harinya. Setelah makan mereka hendak melanjutkan perjalanan. Namun  langsung dihadang polisi dan meminta peralatan warga berupa parang. Wargapun menyerahkan tanpa ada perlawanan kemudian mencatat nama dan mengambil foto korban yang pada saat itu berjumlah 16 (enam belas orang). Polisi langsung memasukkan ke mobil tahanan dan lansung membawa ke Mapolres Humbang Hasundutan. Setelah tiba di Polres, dalam pemeriksaan mereka dipaksa mengaku dan menulis nama-nama warga Pandumaan dan Sipituhuta yang ikut turun ke lahan tombak Haminjon. Korban menjelaskan nama-nama yang ikut ditangkap dan mengatakan bahwa itulah yang dikenal tetapi dengan membentak polisi menannyakan yang lain. Setelah itu dipulangkan ke ruang tahanan dengan tetap dikawal polisi.

9. Am. Samsul Lumbangaol (Solo Maripa Lumbangaol  35 tahun)

Ditangkap di Marade dari kerumunan massa, polisi menyuruhnya tiarap kemudian ditendang di bagian kepala sehingga mengalami luka di sebelah kiri. Lalu polisi menarik tangan si korban sehingga keseleo, yang kemudian memasukkannya ke mobil tahanan. Setiba di Polres saat proses pemeriksaan, korban dipaksa berjoged dengan tangan ke atas dengan diiringi suara musik. Dengan terpaksa korban menurut karena merasa takut. Polisi juga menampar pipi sebelah kiri korban saat proses pemeriksaan, karena korban tidak mau menyebut nama-nama lain yang ikut ke tombak.

10.  Op. Gabriel Munte (Malum Munte  56 tahun)

Pada saat polisi memerintahkan supaya warga duduk, karena tidak mau duduk, 3 (tiga) orang polisi datang menangkap korban. Tetapi karena tidak bisa ditarik kepala korban dipukul dengan benda tumpul, sehingga korban terjatuh dan dibawa dengan mencekik leher korban sampai ke mobil tahanan. Membawa korban ke polres dan memeriksa barang bawaan dan menangkap HP. Dalam proses pemeriksaan korban ditanya tentang masalah yang terjadi di Hutan tetapi korban tidak tahu. Korban dipaksa menuliskan atau melaporkan semua nama-nama yang ikut ke hutan.

11.  Am. Nelson Lumbangaol (Harmon Lumbangaol  41 tahun)

Ditangkap dari Marade, polisi langsung  menangkap korban saat mau lari tapi karena polisi sudah banyak, korban tidak dapat berbuat apa, dengan dikecik korban dibawa ke mobil tahanan.

12.  Am. Romauli Lumbangaol (Jontar Lumbangaol  41 tahun)

Ditangkap dari Marade, saat berdiri di kerumunan massa, polisi langsung  menangkap korban saat mau lari tapi karena polisi sudah banyak korban tidak dapat berbuat apa, dengan dikecik korban dibawa ke mobil tahanan. Pada saat penangkapan ditinju di bagian kepala dan hidung berkali-kali sampai hidungnya mengeluarkan darah. Selama pemeriksaaan ditampar sekali bagian pipi kiri karena dipaksa mengaku, menunjukkan teman yang pegang kayu. 

13.  Am. Alpando Pandiangan (Jonson Pandiangan  45 tahun)

Pada saat berdiri di halaman rumah Bapak Rencus Lumbangaol di Desa Pandumaan, rombongan polisi datang 4 (empat) truk, sebagian dengan berjalan kaki. Melihat itu korban masuk rumah, karena melihat banyak polisi korban masuk ke dalam kamar rumah Rencus Lumbangaol. Dan bergabung bersama Pak Rencus Lumbangaol yang sedang tidur bersama anak-anaknya dengan mengunci kamar dari dalam. Polisi langsung mendobrak pintu dan Ibu yang punya rumah datang dari belakang untuk menghalangi polisi. Dua orang polisi langsung menodongkan dua moncong senjata laras panjang dan satu pistol ke tubuh korban.

Melihat hal itu, istri korban histeris dan berusaha menghalangi suaminya dari arahan senjata. Namun polisi langsung memukulkan popor senjata ke tubuh si ibu yang mengakibatkan luka memar di bagian lengan dan dada atas. Polisi pun berhamburan masuk ke kamar untuk menangkap dan menyeret korban sehingga pakaian korban robek. Kemudian memasukkan korban ke mobil tahanan, seorang polisi mencekik korban sementara dua orang lainnya membantu, kemudian korban dipukul di bagian perut dan selanjutnya dibawa ke Polres Humbang Hasundutan. Di dalam mobil tahanan, polisi juga mengancam akan memukul korban, kemudian korban hanya berkata, “Ya Tuhan lihatlah kami ini”. Dengan mengejek polisi menyahut, “Kalau sudah ditangkap polisi, kalian ingatlah Tuhan.” Korban kembali berkata, “Biarlah Tuhan yang membalas perbuatan kalian ini.”

14. Op. Sintia Lumban Gaol (Edison Lumbangaol 52 tahun)

Korban sebenarnya baru pulang dari Mapolres. Sejak pukul 21.00, Korban, bersama Delima Silalahi dari KSPPM, Kepala Desa, Opdan lima warga lainnya berada di Polres untuk melihat kondisi 16 warga yang ditangkap dari kebun kemenyansekaligus mengantarkan perbekalan mereka. Kerumunan massa sudah tidak ada di Simpang Marade, yang ada hanya mobil-mobil polisi, truk brimob dan puluhan polisi/brimob. Sempat berbincang dengan beberapa polisi sebelum akhirnya pulang ke rumah. 20 meter sebelum tiba di rumah, polisi menangkap korban karena tidak mau menunjukkan rumah Pak James Sinambela dan Kersi Sihite. Korban dipaksa masuk ke mobil tahanan polisi sedangkan  sepeda motor koban ditinggalkan begitu saja dan kuncinya diambil polisi, sampai korban dibebaskan kunci sepeda motor tidak dikembalikan pihak polisi.

Oleh:

Delima Silalahi

Roganda Simanjuntak

-->