Pesan Juang Dari Balik Jeruji

 Oleh Delima Silalahi

"Kami, berada di tempat ini dan harus merindukan keluarga kami di kampung, bukan karena kami melakukan kejahatan, kami hanya berusaha mempertahankan warisan nenek moyang kami dan hidup kami dari rampasan pengusaha. Beritakanlah ini ke publik seluas-luasnya", kata Pdt. Haposan Sinambela saat kunjungan rombongan Uskup Emeritus, KSPPM, UEM dan keluarga, Jumat, 28 Pebruari 2013 yang lalu.


Wajah-wajah penuh harap, berkumpul di Posko Perjuangan masyarakat Pandumaan-Sipituhuta di Lumban Sinambela, Pandumaan, Sabtu Sore, 2 Maret 2013 lalu.  Mereka adalah keluarga dari 16 warga yang ditangkap polisi/brimob, 25-26 Pebruari 2013 lalu. Mereka ingin mendengar kabar suami, anak, ayah dan saudaranya.  Menjadi tahanan dan mendekam di balik jeruji  besi merupakan hal yang tak pernah dibayangkan.  Penjara, bagi mereka adalah tempat bagi orang-orang yang melakukan kejahatan. Bukan bagi orang-orang seperti mereka yang menuntut keadilan dan berjuang mempertahankan haknya dan kelangsungan hidup anak dan keturunan mereka kelak.


Rasa ingin tahu mereka tentang kondisi keluarga yang saat ini di tahan di tahanan Polda Sumut memaksa kami untuk menunjukkan video rekaman yang kami ambil saat berkunjung ke Mapoldasu, 27-28 Pebruari 2013 yang lalu. Seorang anak kecil yang dibawa ompung borunya (nenek), terlihat kegirangan menunjuk-nunjuk photo ayahnya. Anak-anak kecil lainnya turut kegirangan melihat ayah mereka, beberapa dengan polos mengatakan ayahnya masuk TV. Kegirangan ini bertolak belakangan dengan wajah para ibu yang berkali-kali  mengulang rekaman video tersebut dengan berurai air mata.


Ada sedih dan perih yang mendalam yang mereka rasakan, setidaknya itu yang dikatakan ibu dari Madilaham Lumbangaol,  “Ingkon taonon mu ma on ate amang, asa adong sogot ngolu-ngolu ni gelleng mon”, bergetar suaranya, sembari memeluk cucunya, anak bungsu Madilaham Lumbangaol.


Wajah keriput nenek berusia sekitar 69 tahun itu, berurai air mata. Dia berusaha meyakinkan diri bahwa anak bungsunya itu dan 15 warga lain adalah pejuang tanah adat mereka, pejuang anak dan cucu mereka supaya bisa hidup dan sekolah.


Kesedihan juga tergambar jelas di wajah keluarga-keluarga lainnya, Op. Jusuf Lumban Gaol, kakek berusia sekitar 80-an tahun ini, berharap anaknya, Elister Lumbangaol,  bisa segera lepas, dan hutan kemenyan mereka tidak dirampas PT Toba Pulp Lestari (TPL). Hal yang sama juga dirasakan keluarga Mampu Munthe, laki-laki berusia 32 tahun ini sedang menunggu kelahiran anaknya. Sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, kehadirannya di tengah keluarga sungguh sangat diharapkan.


Jika ke-16 keluarga, merasa sangat kehilangan dan kesedihan mendalam atas ditangkapnya anggota keluarga mereka, hal yang sama juga dirasakan oleh puluhan keluarga lainnya. Tindakan represif  polisi dalam melakukan penangkapan Selasa dini hari lalu, membuat banyak laki-laki/kepala keluarga yang terpaksa mencari keamanan di tempat lain. Bahkan banyak istri yang merasa desa mereka sudah tidak aman bagi para laki-laki. Pernyataan polisi pada dinihari mencekam itu yang mengatakan, ”Semua laki-laki harus ditangkap!”,  memaksa para istri untuk menyuruh suami mereka untuk pergi dari desa entah untuk sampai kapan. Sikap ini juga terpaksa diambil karena polisi masih terus melakukan patroli di beberapa tempat dan bahkan masuk ke hutan kemenyan mereka. Seperti yang terjadi pada Jumat malam, 1 Maret 2013 lalu, 10 warga sempat ditangkap dari ladang dan diborgol. Padahal kesepuluh warga sedang mencari kerbau yang hilang sejak sore hari. Polisi akhirnya melepaskan ke-10 orang termasuk Ganda Simanjuntak dari KSPPM yang ikut membantu warga mencari kerbau tersebut.


Berada di balik jeruji, nasib ke-16 warga tidak jauh berbeda dengan nasib ribuan  warga di Pandumaan dan Sipituhuta. Sampai saat ini, mereka kehilangan kemerdekaannya.  Kemerdekaan untuk hidup nyaman dan bebas mencari nafkah. Kehadiran polisi/brimob dengan senjata laras panjangnya di desa, ladang dan hutan kemenyan menjadi penjara yang lebih menakutkan. Seminggu sudah warga tidak ada yang berani mengambil getah kemenyan ke hutan. Sementara kebutuhan hidup harus terus dipenuhi. Beban kaum perempuan sebagai ibu dalam keluarga semakin bertambah.Minggu ini tidak ada penghasilan keluarga dari penjualan hasil kemenyan.


Namun kondisi ini tidak lantas membuat kaum ibu Pandumaan-Sipituhuta  menjadi cengeng, seperti yang dituduhkan beberapa oknum polisi kepada mereka. Air mata dan jerit tangis mereka tidak lebih dari air mata kemarahan dan kekecewaan terhadap ketidakadilan dan penindasan yang mereka alami. Para ibu ini tegar berjuang, bahkan siap berdiri di baris depan menghadapi senjata polisi yang akan diarahkan kepada mereka. Hal ini sudah terbukti  dalam lima tahun perjuangan mereka, sejak tahun 2009. Para ibu dengan lantang bersuara di depan para pejabat pemerintah di Kabupaten Humbang Hasundutan dan pihak kepolisian. Mereka terus bersuara, walau suara lantang itu seringkali tidak didengar dan bahkan diabaikan.


Adalah salah besar, pernyataan polisi pada saat pengepungan yang mengatakan bahwa warga Pandumaan dan Sipituhuta pengecut karena melibatkan perempuan dalam aksi –aksi perlawanan. Sesungguhnya merekalah yang pengecut karena  telah memposisikan diri menjadi centeng perusahaan. Sikap yang tidak hanya mengorbankan kaum laki-laki. Tetapi mereka telah berkontribusi besar menambah beban berat perempuan dalam keluarga karena merampas sumber hidup mereka.


Perempuan-perempuan di Pandumaan dan Sipituhuta adalah srikandi-srikandi yang berjuang melawan ketidakadilan. Mempertahankan tanah adatnya untuk diwariskan kepada anak-cucu mereka kelak.  Wajah-wajah lelah itu terus berharap, bahwa masih ada keadilan di depan sana, yang menjadi gerbang kebebasan bagi suami, anak dan saudara mereka yang saat ini ditahan, yang saat ini terpaksa bersembunyi, dan menjadi gerbang kemerdekaan bagi mereka untuk mengelola kembali tanah adat mereka.


Para keluarga yang menyaksikan rekaman video keberadaan 16 warga di tahanan Poldasu semakin tegar, karena semangat juang masih tetap terpancar di wajah 16-warga yang ditangkap. Di balik balutan baju tahanan warna merah maron, walau kelihatan lelah ke-16 warga tetap yakin bahwa perjuangan mereka adalah sebuah kebenaran. Pesan perjuangan dari balik jeruji terus menggema di benak dan sanubari ribuan warga Pandumaan dan Sipituhuta. Takkan melemah walau ditindas. Begitulah mereka mengambil sikap.***

-->