Lagi-lagi TPL Kriminalisasi Warga


 

“Saya jujur, di hadapan para orang tua di sini, saya jujur mengatakan bahwa saya tidak ada melakukan pemukulan terhadap karyawan TPL. Kalaupun saya di penjara karena dituduh menganiaya, padahal saya tidak melakukannya, apa boleh buat. Itu sudah resiko perjuangan. Sebab TPL punya uang dan mampu membayar siapa pun. Tetapi pesan saya, kita harus tetap semangat melanjutkan perjuangan ini”

 

Demikian sepenggal pernyataan Sammas Sitorus pada diskusi kami tadi (Rabu malam, 5 Agustus 2015) di salah satu rumah warga di Lumban Sitorus. Diskusi malam ini dihadiri 50-an warga, yakni para natua-tua ni huta (tetua kampung) dan kepala desa.

 

Kriminalisasi terhadap Sammas Sitorus oleh perusahaan yang bernama PT Toba Pulp Lestari (TPL) ini berawal dari adanya aksi demonstrasi warga Lumban Sitorus untuk menuntut pengembalian tanah adat yang sudah 30-an tahun dipakai TPL sebagai lokasi pabrik dan pembibitan dengan gratis (tanpa sewa, ganti-rugi, atau dalam bentuk pemberian apapun).---Sejak awal 2015, warga kampung ini sudah berkali-kali melakukan aksi demonstrasi di depan pintu masuk perusahaan ini. Dan selama puluhan tahun pula mereka sudah berulang kali mempertanyakan kejelasan tanah adat mereka ke pihak TPL dan pemerintah---.

 

Berikut ini adalah kronologis kejadian yang dituliskan staf KSPPM:

Pada hari Selasa, 14 Juli 2015, puluhan masyarakat adat dari Desa Lumban Sitorus, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Tobasa, yang tergabung dalam PERMADES (Persatuan Masyarakat Desa Lumban Sitorus), kembali melakukan aksi unjuk rasa di depan pintu masuk truk kontainer TPL. Seperti aksi-aksi sebelumnya, mereka menuntut pengembalian tanah adat mereka yang telah dikuasai (dipakai) TPL selama 30-an tahun tanpa kejelasan. Ini merupakan hari kedua, sehari sebelumnya mereka juga melakukan unjuk rasa di tempat yang sama. Mereka merencanakan akan melakukan unjuk rasa di tempat tersebut selama 4 (empat) hari, yakni 13-16 Juli 2015, sesuai surat pemberitahuan yang sudah mereka sampaikan ke pihak kepolisian resor Tobasa.

 

Hari itu, pukul 07.30 Wib, dengan menggunakan sepeda motor dan mobil, massa aksi bergerak menuju lokasi. Sekitar pukul 07.45 wib, massa aksi pun tiba di lokasi. Namun, di tempat di mana mereka aksi sehari sebelumnya, sudah parkir sekitar 16 truk kontainer pengangkut kayu, berbaris sejajar dalam dua barisan, dan di tengah barisan truk kontainer tersebut ada dua unit mobil security TPL. Lalu, massa aksi pun menggelar tikar mulai dari depan truk-truk kontainer yang parkir tersebut sampai ke jalan menuju Desa Siantar Utara (Siruar).

 

Salah seorang massa aksi, Lesman Sitorus (Ama Sergio), menanyakan kepada beberapa orang (karyawan TPL) yang berada di lokasi tersebut, siapa sopir dari truk-truk kontainer yang diparkir tersebut. Tetapi tidak ada yang mau memberi tahu, mereka hanya mengatakan bahwa sopir dari truk-truk kontainer tersebut sudah pulang karena sejak dari pagi truk-truk tersebut telah terparkir di situ. Setelah itu, Lesman Sitorus meminta temannya sesama massa aksi, Jonner Sitorus (Ama David), untuk mencatat nomor polisi truk-truk kontainer tersebut. Selanjutnya Lesman Sitorus menyampaikan kepada para karyawan TPL tersebut: Sebelumnya kami tidak pernah menghalang-halangi kalian mencari nafkah di sini, tetapi cukuplah hari ini saja kalian datang ke kampung ini.

 

Kemudian, Sammas Sitorus (Ketua Permades) bersama 5 warga lainnya, berusaha mencari sopir truk-truk kontainer tersebut dengan maksud agar sopir-sopir tersebut berkenan memindahkan atau menggeser truk-truk tersebut. Saat itu, Hotner Tampubolon (Humas TPL) dan Mangoloi Pardede (Koordinator Log/Kayu) dengan mengendarai sepeda motor (posisi Mangoloi dibonceng Hotner Tampubolon) melintas dan berhenti di lokasi tempat parkir truk-truk kontainer tersebut.

 

Melihat kehadiran kedua karyawan TPL ini, Sammas Sitorus bersama kelima temannya (Parulian, Budi, Lesman, Marjumo Sitorus, dan Viktor Manurung) menjumpai kedua karyawan TPL tersebut dan meminta agar menyuruh supir-supir truk kontainer memindahkan kenderaan mereka. Tetapi, kedua karyawan TPL ini menjawab bahwa itu bukan urusan mereka dan akan menelpon (namun tidak jelas siapa orang yang akan ditelpon tersebut). Mendengar jawaban karyawan TPL itu, Sammas Sitorus mengatakan: “Ngapain harus ditelepon, kan kalian orang TPL juga.”

 

Setelah kedua karyawan TPL tersebut pergi dengan sepeda motornya, Sammas Sitorus dan temannya kembali ke titik kumpul massa. Tidak berapa lama kemudian, supir-supir truk itu pun muncul dan memundurkan truk-truk tersebut. Tetapi mobil security TPL yang berada di tengah-tengah barisan truk-truk tadi tidak ikut digeser.

 

Massa aksi pun mendirikan tenda, melanjutkan aksi unjuk rasa dengan orasi di tempat tersebut.

Kira-kira pukul 11.00.Wib, massa aksi mendapat informasi bahwa mereka sudah diadukan oleh karyawan TPL ke pihak kepolisian karena melakukan pemukulan terhadap karyawan TPL. Informasi ini mereka peroleh dari salah seorang polisi. Polisi itu bertanya kepada salah seorang warga: Mengapa massa aksi bisa terpancing melakukan pemukulan terhadap Humas TPL?

 

Pertanyaan polisi ini dijawab warga tadi dan mengatakan bahwa mereka tidak ada yang melakukan pemukulan terhadap siapa pun, termasuk kepada Humas TPL. Dan warga ini balik bertanya, apakah pihak TPL ada membuat laporan ke polisi? Pertanyaan ini dibenarkan polisi tersebut dan mengatakan bahwa pihak TPL membuat pengaduan ke Polres Tobasa.

 

Setelah sejenak membahas informasi ini, massa aksi pun kembali melanjutkan aksi unjuk rasa, karena mereka merasa tidak ada dari antara mereka yang melakukan pemukulan terhadap siapa pun, termasuk karyawan TPL.

 

Selama aksi berlangsung, massa aksi melihat beberapa Humas TPL sedang berada di samping pos security memperhatikan berlangsungnya aksi massa. Tidak berapa lama kemudian, polisi pun mulai berdatangan ke lokasi aksi.

 

Pukul14.00.Wib, Humas TPL keluar dari pos security dan menemui polisi dan Kapolsek yang sedang berjaga di tempat tersebut. Sekitar 1 jam bersama pihak kepolisian di kedai kopi yang ada di lokasi tersebut, Humas TPL ini pun kembali masuk ke dalam lokasi pabrik.

 

Antara pukul 14.00.– 16.00 Wib, warga tetap berada di lokasi aksi. Saat itu, kenderaan polisi (Inafis, patroli provost, truk, dan beberapa modil pribadi) mulai berdatangan ke lokasi aksi. Sekitar 200-an polisi ini berkumpul ke arah jalan Desa Siantar Utara.

 

Selagi polisi berkumpul seperti melakukan breafing, Kompol EB Sinaga mendatangi massa aksi dan menanyakan, kapan aksi berakhir dan meminta warga meminggirkan kendaraan aksi agar truk-truk kontainer bisa masuk ke lokasi pabrik. Massa aksi menjawab, sesuai kesepakatan lamanya aksi, yakni sampai pukul 18.00. Dan kendaraan warga akan dipindahkan apabila Humas TPL menjumpai warga

 

Pukul16.30 Wib, melihat semakin banyak polisi yang datang ke lokasi aksi, dan mulai bergerak menyebar mengelilingi warga, warga pun sepakat untuk mengakhiri aksi mereka hari itu.

 

Sammas Sitorus ditangkap paksa

Sekitar Pukul 17.30 Wib, warga pun bersiap-siap untuk pulang ke kampung dengan mengumpulkan seluruh perangkat aksi (spanduk, tikar, dan tenda), dan kemudian bergerak ke kendaraan masing-masing.

Ketika iringan kendaraan warga hendak bergerak pulang, sebuah mobil yang dikendarai polisi dengan nomor polisi BB 168 EP berada di belakang salah satu mobil yang membawa warga. Mobil polisi ini tiba-tiba mencegat dan menghalangi kendaraan warga yang di belakangnya. Beberapa polisi yang sebelumnya mengerumuni massa langsung melakukan penyergapan dan penangkapan terhadap Sammas Sitorus (Ketua Permades) yang saat itu sedang berboncengan dengan Rudi Sitorus.

 

Ketika disergap, Sammas Sitorus berontak dan mengatakan, “Ada apa ini?”  Polisi itu mengatakan, “Kamu tadi itu ya?” 

Sammas langsung diseret dari sepeda motor dan dipaksa masuk ke dalam mobil polisi tersebut. Selanjutnya, mobil polisi ini pun bermaksud menerobos mobil yang berada di depannya. Namun mobil yang di depan menghalanginya. Warga yang berada di mobil pun langsung berteriak, “Sammas ditangkap, Sammas ditangkap...!”

 

Mendengar temannya ditangkap polisi, warga pun turun dari mobil dan sepeda motor yang mereka tumpangi, dan langsung bergerak menuju mobil yang membawa Sammas Sitorus. Warga berusaha menghentikan mobil (avanza hitam) polisi tersebut. Tapi mobil polisi tersebut tetap melaju dan menghindar dari kerumunan massa, dan keluar melalui jalan lain (jalan timbangan khusus truk pengangkut kayu TPL).

 

Warga tetap berupaya menghentikan kendaraan yang membawa Sammas Sitorus. Tetapi mobil polisi ini tetap melaju kencang dan menerobos barisan warga, dan akhirnya berhasil membawa Sammas Sitorus ke Polres Tobasa.

 

Warga demo ke Polres

Paska penangkapan Sammas Sitorus, pada hari itu juga, pukul 18.30.Wib, sekitar 300-an warga dari Desa Lumban Sitorus berangkat ke Kantor Polres Tobasa. Sesampainya di sana, rombongan warga dihalangi oleh polisi di pos jaga masuk dengan alasan perintah dari atasan. Warga tetap menembus upaya penghalang-halangan yang dilakukan polisi di pos jaga ini dan langsung menuju kantor Polres, tetapi warga kembali dihalang-halangi dengan pagar betis polisi. Para perempuan yang ikut pada aksi ini, menangis histeris dan mendesak agar Sammas Sitorus dilepaskan.

 

Melihat aksi ini, masyarakat sekitar pun berdatangan dan mendukung aksi yang dilakukan masyarakat adat Lumban Sitorus. Warga secara bergantian berorasi mendesak Kapolres untuk melepaskan Sammas Sitorus. Beberapa dari warga berupaya berkomunikasi dengan Polisi agar perwakilan masyarakat diperbolehkan masuk untuk bertemu dengan Sammas Sitorus. Polisi ini mengatakan, akan berkoordinasi ke komandan dulu. Selanjutnya, polisi ini (setelah berkoordinasi ke dalam) menyampaikan kepada warga bahwa dua orang diperbolehkan masuk. Warga memutuskan yang masuk menemui Sammas Sitorus adalah kedua orang tuanya.

 

Setelah orang tua Sammas Sitorus masuk ke kantor, kemudian polisi meminta lima orang dari warga yang mengetahui kejadian untuk masuk dan menunggu giliran untuk diperiksa. Namun, kelima orang ini tidak diperiksa.

 

Sekitar pukul 20.00.Wib, polisi meminta perwakilan warga untuk bertemu dengan Kapolres. Lalu Kepala Desa bersama empat orang perwakilan warga menemui Kapolres. Dalam pertemuan tersebut, Kapolres menyampaikan kepada Kepala Desa:“Saya sudah beberapa kali menelpon agar tidak demo di TPL karena TPL merupakan objek vital nasional”. Kemudian Kapolres mengambil dokumen dari ruangannya dan memperlihatkan dokumen yang katanya isinya bahwa TPL termasuk objek vital nasional yang harus dilindungi.

 

Warga menyampaikan kepada Kapolres bahwa tujuan mereka melakukan aksi adalah karena tanah mereka dirampas TPL, sementara tentang objek vital nasional adalah hal yang diatur baru-baru ini. Lalu Kapolres mengatakan kepada perwakilan warga agar melaporkan masalah Lumban Sitorus kepadanya, supaya ia dapat memediasi bersama DPRD.

 

Viktor Manurung, salah seorang perwakilan warga menanyakan Kapolres tentang saksi yang ada di surat pengaduan. Viktor menjelaskan kepada Kapolres bahwa ia telah melihat surat pengaduan oleh Mangoloi Pardede (karyawan TPL). Dalam surat pengaduan itu, nama-nama saksi yang diajukan justru tidak ada di lokasi kejadian.

 

Tapi Kapolres berusaha mengalihkan pembicaraan. Kapolres mengatakan bahwa dia akan melepaskan Sammas Sitorus malam itu juga dengan syarat masyarakat kembali (pulang) dulu ke kampung. Lalu Kepala Desa menyampaikan kepada warga yang berada di luar, bahwa Kapolres akan melepaskan Sammas malam itu dengan syarat masyarakat harus pulang dulu ke desa. Masyarakat mengatakan akan tetap bertahan di Kantor Polres tersebut sampai Sammas Sitorus dilepaskan.

 

Kemudian, salah seorang dari warga bernegosiasi dengan polisi agar menghadirkan Kapolres untuk berbicara langsung kepada masyarakat. Tidak lama berselang, Kapolres pun keluar dan menemui warga. Kapolres mengatakan, “Pulanglah kalian, saya menjamin Sammas Sitorus akan keluar malam ini.”  Warga tidak percaya dengan pernyataan Kapolres dan sepakat untuk tetap bertahan di Polres, menunggu sampai Sammas Sitorus dilepaskan.

 

Sekitar pukul 20.40.Wib, anggota DPRD Tobasa (Afron Sirait) tiba di kantor Polres dan langsung menemui Kapolres. Kemudian anggota DPRD lainnya (Winner Sinambela) tiba setengah jam berikutnya, dan langsung menyusul menemui Kapolres. Kedua anggota DPRD ini meminta agar Kapolres melepas Sammas. Kapolres mengatakan menjamin akan melepasnya malam itu juga. 

 

Sekitar pukul 23.30.Wib, Sammas Sitorus pun dilepaskan, setelah surat jaminan ditandatangani kedua anggota DPRD dan staf KSPPM. Dalam surat jaminan, Sammas Sitorus akan wajib lapor dua kali seminggu, yakni setiap hari Senin dan Kamis. Setelah itu, warga bersama Sammas Sitorus kembali ke desa meninggalkan kantor Polres Tobasa.

 

Demikian proses kriminalisasi terhadap Sammas Sitorus. Hingga saat ini, Sammas Sitorus masih wajib lapor dua kali seminggu. ****

 

(Suryati Simanjuntak)

-->